Kamis, 10 September 2015

Jangan Sampai Hawa Nafsu Menguasaimu.



“TIDAK DIKHAWATIRKAN BAHWA BERBAGAI JALAN MENUJU ALLAH AKAN MEMBINGUNGKANMU. NAMUN YANG DIKHAWATIRKAN ADALAH, KALAU SAMPAI HAWA NAFSU MENGUASAIMU” (Al-Hikam – 97)
Orang yang mendapat keinsafan/taubat untuk kembali kepada Allah S.W.T selalu menghadapi kebingungan dalam memilih jalan menuju Allah S.W.T. Kebingungan  akan bertambah jika seseorang itu cenderung untuk memasuki aliran Tarekat   Perbedaan pendapat ulama  membuatnya kita tidak dapat memutuskan siapakah yang benar. Satu pihak dalam hati mengatakan bahawa mereka yang benar, dan pihak lain adalah salah. Mereka adalah ahli sunnah sementara pihak lain adalah ahli bida'ah. Menurut mereka, ilmu mereka yang ah-lulsunnah, sementara ilmu pihak lain adalah sesat. Tarekat  merekalah yang sampai kepada Rasulullah s.a.w sementara tarekat  orang lain putus di tengah jalan. Jadi, siapakah yang berada di atas jalan yang benar lagi lurus? Jalan manakah yang mau diikuti? Keadaan yang demikian membuat orang yang baru untuk memilih jalan mengalami kebingungan dan kekeliruan.
Untuk menghindari kebingungan dan kekeliruan tersebut dan mencari penyelesaiannya, Kalam Hikmat 97 di atas menarik perhatian kepada persoalan pokok. Jangan terlalu khuatir tentang jalan mana yang mau dipilih dan guru mana mau diikuti. Apa yang penting adalah waspada agar diri kita tidak dikekang oleh nafsu. Seandainya hawa nafsu mengekang kita niscaya kita akan sesat walau jalan mana yang kita lalui dan guru mana kita ikuti. Hawa nafsu menghalangi cahaya petunjuk dari masuk ke dalam hati. Bila hati dilingkari oleh tembok hawa nafsu tidak ada guru yang  mengajari ilmu ke dalam dada kita dan tidak ada jalan yang dapat menetapkan langkah kita. Dengan ini, sebaiknya perhatian mesti diberi kepada latihan mengawal hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah terkawal, insya-Allah jalan kebenaran akan terbuka kepada kita. Sekiranya kita sedang mengikuti jalan yang salah, diseret oleh guru yang sesat, tetapi hawa nafsu tidak mengekang kita, kita akan mudah menerima kebenaran bila ia datang. Dan, kita tidak keberatan untuk meninggalkan jalan yang salah dan guru yang sesat itu untuk mengikuti jalan yang lurus dan guru yang benar. Apa yang penting adalah maksud dan tujuan hendaklah betul/benar. Tetapkan yang Allah S.W.T saja yang menjadi maksud dan tujuan. Jika belajar ilmu agama janganlah kerana bertujuan mau menjadi guru yang dikagumi. Jika beramal ibadat jangan pula kekeramatan yang dituntut. Tetapkan haluan menuju Allah S.W.T. Jika kita berpegang dengan prinsip demikian mudahlah kita mencari guru yang benar dan jalan yang lurus. Guru mana bisa diikuti asal dia mengajar ilmu  dari al-Quran dan as-Sunah, berpandu kepada perjalanan khalifah ar-rasyidin dan guru itu sendiri beramal mengikut ilmu tersebut. Tarekat  yang mana pun boleh diikuti asalkan ia berada dalam al-Quran dan as-Sunah, jangan mengadakan bidaah. Pada sepanjang masa bukakan hati untuk menerima taufik dan hidayat dari Allah S.W.T.
Seharusnya tidak terjadi kekeliruan dalam memilih jalan kerana Islam sudah cukup lengkap, nyata dan tidak ada samar-samar. Tarekat  Islam adalah zahir sibuk dengan syariat dan batin memperteguhkan iman. Hati bersandar kepada Allah S.W.T dan  mata hati memerhatikan Rububiyah dalam segala perkara dan pada setiap ketika. Jangan bersandar kepada amal dan ilmu. Perhatikan firman-firman-Nya:

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair ialah anak Allah”. Dan  orang-orang Nasrani berkata: “ Al-Masih  ialah anak Allah”. ( Ayat 30 : Surah at-Taubah )

Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai pendidik-pendidik selain dari Allah. ( Ayat 31 : Surah at-Taubah )

Bahkan mereka adalah menyembah  jin syaitan. ( Ayat 41 : Surah Saba’ )

Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? ( Ayat 43 : Surah al-Furqaan )

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (derhaka)”. ( Ayat 24 : Surah at-Taubah )

Allah S.W.T telah menunjukkan jalan yang jelas. Syirik juga telah diperjelaskan. Seharusnya tidak terjadi kebingungan dalam mengatur langkah menuju Allah S.W.T. Jalan yang terang benderang itu akan menjadi samar sekiranya hawa nafsu menguasai hati. Oleh itu peliharalah hati kita agar kita tidak menjadi hamba kepada hawa nafsu yang akan membinasakan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar