“TIDAK
DIKHAWATIRKAN BAHWA BERBAGAI JALAN MENUJU ALLAH AKAN MEMBINGUNGKANMU. NAMUN
YANG DIKHAWATIRKAN ADALAH, KALAU SAMPAI HAWA NAFSU MENGUASAIMU” (Al-Hikam – 97)
Orang yang mendapat keinsafan/taubat untuk kembali kepada
Allah S.W.T selalu menghadapi kebingungan dalam memilih jalan menuju Allah S.W.T.
Kebingungan akan bertambah jika seseorang itu cenderung untuk
memasuki aliran Tarekat Perbedaan pendapat ulama membuatnya kita tidak dapat memutuskan siapakah yang benar. Satu pihak dalam hati mengatakan bahawa mereka yang benar, dan pihak lain adalah salah.
Mereka adalah ahli sunnah sementara pihak lain adalah ahli bida'ah. Menurut
mereka, ilmu mereka yang ah-lulsunnah, sementara ilmu pihak lain adalah sesat.
Tarekat merekalah yang sampai kepada Rasulullah s.a.w sementara
tarekat orang lain putus di tengah jalan. Jadi, siapakah yang berada di
atas jalan yang benar lagi lurus? Jalan manakah yang mau diikuti? Keadaan yang demikian
membuat orang yang baru untuk memilih jalan mengalami kebingungan dan
kekeliruan.
Untuk menghindari kebingungan dan kekeliruan tersebut
dan mencari penyelesaiannya, Kalam Hikmat 97 di atas menarik perhatian kepada
persoalan pokok. Jangan terlalu khuatir tentang jalan mana yang mau dipilih dan
guru mana mau diikuti. Apa yang penting adalah waspada agar diri kita tidak dikekang oleh nafsu. Seandainya hawa nafsu mengekang kita niscaya kita akan sesat
walau jalan mana yang kita lalui dan guru mana kita ikuti. Hawa nafsu menghalangi
cahaya petunjuk dari masuk ke dalam hati. Bila hati dilingkari oleh tembok
hawa nafsu tidak ada guru yang mengajari ilmu ke dalam dada kita dan
tidak ada jalan yang dapat menetapkan langkah kita. Dengan ini, sebaiknya
perhatian mesti diberi kepada latihan mengawal hawa nafsu. Bila hawa nafsu
sudah terkawal, insya-Allah jalan kebenaran akan terbuka kepada kita. Sekiranya
kita sedang mengikuti jalan yang salah, diseret oleh guru yang sesat, tetapi
hawa nafsu tidak mengekang kita, kita akan mudah menerima kebenaran bila ia
datang. Dan, kita tidak keberatan untuk meninggalkan jalan yang salah dan guru
yang sesat itu untuk mengikuti jalan yang lurus dan guru yang benar. Apa yang
penting adalah maksud dan tujuan hendaklah betul/benar. Tetapkan yang Allah S.W.T
saja yang menjadi maksud dan tujuan. Jika belajar ilmu agama janganlah kerana
bertujuan mau menjadi guru yang dikagumi. Jika beramal ibadat jangan pula
kekeramatan yang dituntut. Tetapkan haluan menuju Allah S.W.T. Jika kita
berpegang dengan prinsip demikian mudahlah kita mencari guru yang benar dan
jalan yang lurus. Guru mana bisa diikuti asal dia mengajar ilmu
dari al-Quran dan as-Sunah, berpandu kepada perjalanan khalifah ar-rasyidin dan
guru itu sendiri beramal mengikut ilmu tersebut. Tarekat yang mana pun
boleh diikuti asalkan ia berada dalam al-Quran dan as-Sunah, jangan mengadakan
bidaah. Pada sepanjang masa bukakan hati untuk menerima taufik dan hidayat dari
Allah S.W.T.
Seharusnya tidak terjadi kekeliruan dalam
memilih jalan kerana Islam sudah cukup lengkap, nyata dan tidak ada
samar-samar. Tarekat Islam adalah zahir sibuk dengan syariat dan batin
memperteguhkan iman. Hati bersandar kepada Allah S.W.T dan mata hati
memerhatikan Rububiyah dalam segala perkara dan pada setiap ketika. Jangan
bersandar kepada amal dan ilmu. Perhatikan firman-firman-Nya:
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair
ialah anak Allah”. Dan orang-orang Nasrani berkata: “ Al-Masih
ialah anak Allah”. ( Ayat 30 :
Surah at-Taubah )
Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan
ahli-ahli agama mereka sebagai pendidik-pendidik selain dari Allah. ( Ayat 31 : Surah at-Taubah )
Bahkan mereka adalah menyembah jin syaitan. ( Ayat 41 : Surah Saba’ )
Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan
keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? ( Ayat 43 : Surah al-Furqaan )
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika
bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri
(atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu
usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan tempat tinggal
yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai
lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya,
maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya);
kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq
(derhaka)”. ( Ayat 24 : Surah at-Taubah )
Allah S.W.T telah
menunjukkan jalan yang jelas. Syirik juga telah diperjelaskan. Seharusnya tidak
terjadi kebingungan dalam mengatur langkah menuju Allah S.W.T. Jalan yang
terang benderang itu akan menjadi samar sekiranya hawa nafsu menguasai hati.
Oleh itu peliharalah hati kita agar kita tidak menjadi hamba kepada hawa nafsu
yang akan membinasakan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar